بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
1.    Pusara itu kembali meraup sepi. Setelah berteleku, membaca yasin, berdoa dia melangkah meninggalkan pusara arwah anak kesayangannya dalam hujan yang turun renyai-renyai di awal pagi. Hatinya yang masih robek ditinggalkan bertambah nyilu diselimuti dinginnya suasana. Telah sekian tahun anak itu mengadap Ilahi namun dia merasakan insiden itu seolah baru semalam. Cinta dan kasih sayangnya yang mendalam terhadap anak yang telah dibelai, dimanja, dididik sebaiknya tidak langsung hapus walau sedikit. Perasaan itu menderanya pula,melanyaknya hingga tidak bermaya. Kesedihan lantaran kehilangan yang tersayang terus diratapi. Menjadikannya murung.

2.    Dia merenung siling. Sekujur tubuhnya lesu. Tiada daya upaya menolong diri sendiri. Hanya terbaring saja mengharapkan kesudian orang lain menghulurkan pertolongan lantaran kelumpuhan yang memenjarakan pergerakannya. Anak-anak yang masih kecil mengelilinginya. Dia hanya memandang pilu wajah anak-anak yang sayu tanpa dapat berbuat apa-apa untuk mengurusi kemasylahatan mereka sebaiknya.Tidak dapat lagi menyayangi apalagi memberi didikan menurut kemahuannya. Semata-mata mengharapkan belas kasih keluarganya terdekat untuk memberi mereka perhatian. Dia amat menyesali kehilangan saat-saat indah berceria bersama anak-anak kesayangan walau anak-anak itu tetap tumbuh membesar dan berada di sisinya...

Terima kasih bersama Karyaku...Paridah Ishak. Komen anda amat dihargai... “Semoga Allah SWT akan membalas dirimu dengan kebaikan yang banyak dan semoga Allah SWT akan membalas dengan balasan yang terbaik.”